Download Embalming Forensik PDF

TitleEmbalming Forensik
File Size255.1 KB
Total Pages12
Document Text Contents
Page 7

7


5. Pada arteri femoralis dimasukkan trocar, sebuah pipa besi panjang untuk

mengalirkan larutan embalming. Larutan tersebut kemudian dialirkan

melalui alat pompa.

6. Selain pada arteri femoralis, pengaliran cairan pengawet juga dapat

dilakukan lewat arteri carotid, arteri aksilaris maupun vena saphenous.

7. Lakukan pengeluaran darah lewat vena jugular untuk mengurangi tekanan

secara periodik.

8. Pada rongga-rongga tubuh perlu dilakukan aspirasi terhadap cairan pada

rongga tubuh sebelum menginjeksi larutan embalming.

9. Dengan menggunakan trocar, larutan embalming dimasukkan kedalam

rongga-rongga dalam tubuh pada abdomen dan thorax, serta pada otot-otot

dan sendi.

10. Cairan embalming juga dimasukkan lewat superior orbital fissure untuk

mengawetkan otak.
1




Beberapa keadaan yang dapat menyulitkan proses embalming
1
:

 Sumbatan pada arteri

Perlu dilakukan penyuntikan cairan embalming pada beberapa tempat

untuk memastikan distribusi cairan embalming yang baik.

 Trauma

Dilakukan surface embalming terutama pada luka-luka terbuka

 Prosedur autopsi

Pada kasus autopsi, dilakukan hal berikut:

1. Melakukan injeksi cairan embalming dibawah kulit pada daerah-

daerah dimana sistem arterial dirusak oleh proses autopsy.

2. Merendam organ visceral pada larutan embalming minimal selama 1

jam.



2.7 Analisis Pre-embalming:

 Berat badan: taksiran berat badan jenazah

 Tanda-tanda kematian dan tanda pembusukan

 Tanda-tanda kematian tidak wajar: luka-luka, kekerasan

Page 12

12






DAFTAR PUSTAKA

1. Bajracharya S, Magar A. Embalming: an art of preserving human body.

Kath Univ Med J. 2006; 4(4): 554-557

2. Morgan O. Infectious disease risks from dead bodies following natural

disasters. Rev Panam Salud Publica. 2004;15(5):307–12.

3. Singh S. Ilmu Kedokteran Forensik. Medan, 2012

4. Atmadja DS. Tatacara Dan Pelayanan Pemeriksaan Serta Pengawetan

Jenazah Pada Kematian Wajar. 2002. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik

dan Medikolegal FKUI / RSUPN Cipto Mangunkosumo.

5. Atmadja DS. Pengawetan Jenazah Dan Aspek Medikolegalnya. Majalah

Kedokteran Indonesia. 2002; 52(8): 293-7

6. Tim Permata Press. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Dan Kitab

Undang-Undang Hukum Acara Pidana. 2008. Jakarta: Permata Press.

7. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Buku Kesatu.. Diunduh

dari:http://hukum.unsrat.ac.id/uu/kolonial_kuh_perdata.pdf .

8. Departement of health. Precautions for handling and disposal of dead

bodies. 2010 may; 8

9. Bedino JH. Embalming chemistry: glutaraldehyde versus formaldehyde.

Champ Exp Encyclopedia of Mortuary Practices. 2003; 649

10. Kiernan JA. Preservation and retrieval of antigens for

immunohistochemistry – methods and mechanisms. 2002; 1: 63-84

11. Departemen Kesehatan Indonesia. Mengenal formalin. 2006; p 2-4

Similer Documents