Download Organisasi Sebagai Sistem PDF

TitleOrganisasi Sebagai Sistem
File Size72.8 KB
Total Pages7
Document Text Contents
Page 2

Gambar : Organisasi sebagai Sistem (open system) diadaptasi dari Koontz, H dan
Weihrich, H. (1990); Robbins, S.P & Coulter M. (1999).

Sebagai suatu sistem yang terbuka, maka setiap organisasi mempunyai

beberapa karakteristik yaitu; masukan, proses transformasi, keluaran, batas wilayah

(boundary), umpan balik, keterbukaan, dan adaptasi.

Setiap organisasi memanfaatkan berbagai macam energi dari lingkungan berupa

sumber daya manusia, teknologi, informasi, kebutuhan pelanggan, dan modal.

Kesemua energi tersebut diperlukan untuk menggiatkan dan menghidupkan

organisasi. Dengan menggunakan berbagai macam proses transformasi, maka

organisasi merubah energi menjadi suatu hasil produksi, baik yang berupa produk

dan jasa, hasil keuangan informasi, kepuasan, hasil manusiawi. Keluaran yang

dihasilkan oleh organisasi dapat digunakan berupa produk dan jasa, hasil keuangan,

informasi, kepuasan, hasil manusiawi selanjutnya sebagi umpan balik dan di proses

lebih lanjut.

Suatu sistem organisasi selalu mempunyai lingkungan yang disebut dengan

batas wilayah (boundry). Penggunaan batas wilayah dimaksudkan untuk

memberikan kejelasan mengenai bidang yang termasuk suatu sistem dan yang tidak

termasuk suatu sistem. Setiap organisasi memasukkan energi dari lingkungan dan

memberikan keluaran pada lingkungan, dan informasi (kualitas) keluaran dari suatu

LINGKUNGAN

SISTEM

Masukan

SDM
Teknologi
Informasi
Kebut. Pelanggan
Modal

Transformasi

Kegiatan
Manajemen
Struktur Organisasi
Desain Pekerjaan
Kinerja Individu

Keluaran

Produk dan Jasa
Hasil Keuangan
Informasi
Kepuasan
Hasil manusiawi

Balikan Internal

Pengguna
Keluaran

Balikan Eksternal

Page 3

organisasi bermanfaat bagi suatu organisasi untuk menyesuaikan produksi dan

layanan sehingga daoat diterima lingkungannya. Dengan demikian, suatu organisasi

pada dasarnya merupakan suatu sistem yang terbuka, karena setiap organisasi

selalu melakukan interaksi dan transaksi dengan lingkungan. Adaptasi atau

penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi sebagai akibat perkembangan iptek,

dan meningkatnya kebutuhan pelanggan ataupun tuntutan masyarakat terhadap

kualitas barang dan pelayanan yang semakin bail. Organisasi yang tidak tanggap

terhadap perubahan niscaya akan mengalami kegagalan dalam merealisasikan

tujuan.

Untuk mencapai prestasi, organisasi harus mengembangkan kapasitas secara

berkesinambungan (continuos) untuk mengantisipasi perubahan yang terus

berlangsung sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan skenario yang

diciptakan oleh kompetitor baru. Sebagaimana dikemukakan oleh Stephen p.

Robbins (2001) bahwa organisasi yang sukses di abad ke 21 akan bersifat luwes,

mudah belajar dan menanggapi dengan cepat perubahaan yang terjadi. Organisasi

klasik pada masa Henry Fayol, Mary Parker Follets dan manajemen ilmiah tulisan

dari Frederick W. Taylor, Henry Grantt, dan Harington Emerson sudah berlalu.

Pimpinan pada masa sekarang menghadapi lingkungan yang cepat berubah dengan

percepatan (acceleration) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kompetitor baru

bermunculan dengan program inovasi yang tiada henti sehingga menggeser peran

organisasi yang lambat beradaptasi. Karena itu, organisasi membutuhkan

kemampuan untuk secara terus menerus belajar dan beradaptasi untuk mencapai

sukses jangka panjang dalam lingkungan yang dinamis.

Organisasi yang belajar (learning organization) adalah organisasi yang telah

mengembangkan kemampuan untuk terus menerus menyesuaikan diri dan berubah.

Melakukan pembelajaran berarti menetapkan strategi inovasi, perbaikan

berkelanjutan, komitmen terhadap tugas dan tujuan organisasi. Organisasi belajar

dicirikan adanya keterbukaan, pertumbuhan, dan pengambilan resiko. Jika menemui

hambatan atau kekeliruan, maka organisasi segera melakukan perubahan terhadap

target dan sasaran, melakukan kebijakan untuk resolusi jangka pendek, serta

koordinasi terhadap unit-unit yang menentukan.

Dikemukan oleh Robbins, S.P. (2001) bahwa organisasi pembelajar (learning

organization) mempunyai karakteristik dasar sebagai berikut: (1) anggota organisasi

mengesampingkan cara pikir lama, (2) belajar untuk saling terbuka, (3) memahami

cara kerja organisasi, (4) menyusun perencanaan, visi yang dapat disepakati dan

dipahami semua anggota, (5) bersinegi untuk melakukan aksi dalam rangka

pencapaian visi organisasi. Satu hal yang perlu ditambahkan pada karakteristik

Page 5

kelompok terpilih maupun dengan peneliti (supervisor) lebih penting dalam

menentukan produktivitas daripada perubahan-perubahan kondisi kerja. Perhatian

simpatik dari peneliti (pengawas) terhadap kelompok kerja telah mendorong

peningkatan motivasi kerja. Dalam penelitian Elton Mayo yang perlu diperhatikan

untuk meningkatkan produktivitas organisasi adalag moral kerja karyawan, dinamika

kelompok, supervisi yang demokratis, dan hubungan antar karyawan. Penekanan

kebutuhan-kebutuhan sosial dalam aliran perilaku manusia melengkapi pendekatan

klasik sebagai usaha untuk meningkatkan produktivitas. Aliran hubungan manusiawi

(perilaku manusia atau neo klasik) mengutarakan bahwa perhatian terhadap

karyawan akan memberikan manfaat bagi keduannya yaitu kelompok dan organisasi.

Konsep manajemen klasik seolah-olah lebih memusatkan perhatian pada

organisasi bukan pada manusia, sedangkan konsep manajemen neo klasik

(hubungan manusiawi) lebih memperhatikan orang-orang dan bukan organisasi.

Perkembangan aliran perilaku organisasi ditandai dengan pandangan dan pendapat

baru perilaku manusia dan sistem sosial sebagai berikut; (1) unsur manusia adalah

faktor kunci penentu sukses atau kegagalan pencapaian tujuan organisasi, (2)

organisasi harus menciptakan iklim yang kondusif yang memungkinkan karyawan

dapat memenuhi kebutuhan, (3) komitmen dapat dikembangkan melalui partisipasi

dan keterlibatan para karyawan, (4) pekerjaan setiap karyawan harus disusun yang

memungkinkan dapat mencapai kepuasaan diri dari pekerjaan yang dilakukan, (5)

pelaksanaan evaluasi didasarkan pada menit sistem sehingga memenuhi rasa

keadilan dan memuaskan semua pihak.

Aliran ilmu perilaku memberikan sumbangan bagi pemahaman tentang

motivasi perorangan, perilaku kelompok, hubungan antar pribadi di tempat kerja, dan

arti pentingnya pekerjaan bagi manusia. Ilmuwan perilaku memberikan pandangan-

pandangan baru dalam bidang kepemimpinan, manajemen konflik, cara

menggunakan kekuasaan, perubahan dalam organisasi, dan komunikasi.

Owens. R.G. (1991: 13) membedakan istilah hubungan manusia dengan

perilaku organisasi. Dikatakannya, hubungan manusia sangat luas pengertiannya

yaitu sebagai hubungan manusia secara formal dalam organisasi formal, dan

hubungan manusia secara informal dalam organisasi informal. Sedangkan perilaku

organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang berusaha menerangkan, mengerti, dan

meramalkan perilaku manusia di dalam lingkungan organisasi formal. Secara lebih

detail, Gibson, et. Al. (1996:6) menjelaskan bahwa perilaku organisasi adalah studi

yang mempelajari persepsi individu, nilai-nilai, kapasitas, dan tindakan-tindakan saat

bekerja dalam kelompok dan dalam organisasi secara keseluruhan dan menganalisis

akibat lingkungan eksternal terhadap organisasi dan sumberdaya, misi, tujuan dan

Similer Documents