Download perencanaan bangunan pengaman pantai dibulu tuban PDF

Titleperencanaan bangunan pengaman pantai dibulu tuban
File Size2.8 MB
Total Pages30
Document Text Contents
Page 1

1


PERENCANAAN BANGUNAN

PENGAMAN PANTAI

DI BULU TUBAN

Nama Mahasiswa: Asnawi

NRP : 3108 100 703

Jurusan : Teknik Sipil FTSP-ITS

Dosen Pembimbing :

Cahya Buana, ST, MT.

Ir. Bambang Sarwono, M.Sc.

Abstrak
Bulu merupakan salah satu desa yang

terletak di ujung barat kabupaten Tuban.

Batas utara desa Bulu merupakan wilayah

pantai berpasir sepanjang ±4 km dan memiliki

pesisir yang berimpit dengan garis pantai.

Sebagian daerah pesisir dimanfaatkan untuk

kegiatan manusia, seperti kawasan

pemukiman, pariwisata, perdagangan,

industri, dan transportasi. Erosi pantai di

kawasan pesisir Bulu berdampak terhadap

terganggunya aktifitas sehari-hari dari

masyarakat Bulu. Untuk melindungi pantai di

pantai Bulu dari erosi pantai dan gelombang

air laut, maka dibangun bangunan pelindung

pantai.



Dalam perencanaan pelindung pantai,

hal utama yang perlu diperhatikan adalah

tersedianya data-data sekunder lokasi yang

ditinjau. Data-data sekunder tersebut antara

lain: data angin dengan periode ulang 10-100

tahun, dan data pasang surut. Kemudian data-

data tersebut di analisa untuk mendapatkan

gelombang rencana dan angkutan sedimen

pantai.



Berdasarkan hasil analisa Tugas

akhir ini didapatkan hasil Δv sebesar –

131.193 m3/10 th, yang menyebabkan

kemunduran pantai sejauh 41 m/10 th, dan

perencanaan bangunan pengaman pantai

yang digunakan adalah pemecah gelombang

lepas pantai dengan tinggi 6 m, lebar puncak

1,96 m, lebar dasar 30,96 m, kemiringan 1 : 2,

dan fungsi bangunan untuk mencegah erosi.



Kata kunci: Bulu, Gelombang, Pengaman

Pantai.







BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia sebagai negara kepulauan

mempunyai lebih dari 3700 pulau dan wilayah

pantai sepanjang 80.000 km. Wilayah pantai

ini merupakan daerah yang sangat intensif

dimanfaatkan untuk kegiatan manusia, seperti

sebagai kawasan pusat pemerintahan,

pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan,

perikanan, pariwisata, dan sebagainya. Adanya

berbagai kegiatan tersebut dapat menimbulkan

peningkatan kebutuhan akan lahan, prasarana,

dan sebagainya, yang selanjutnya akan

mengakibatkan timbulnya masalah-masalah

baru seperti, erosi pantai yang merusak

kawasan pemukiman dan prasarana yang

berupa mundurnya garis pantai, tanah timbul

akibat endapan pantai yang menyebabkan

majunya garis pantai, pembelokan atau

pendangkalan muara sungai, pencemaran

lingkungan, penurunan tanah, dan intrusi air

asin(Bambang Triatmojo,1999).

Dalam kurun waktu sepuluh tahun

terakhir ini, erosi dan abrasi telah

menyebabkan kemunduran garis pantai di

berbagai wilayah pantai di Indonesia yang

mengancam kehidupan dan penghidupan

masyarakat pesisir. Erosi pantai telah terjadi di

sebagian pantai utara pulau Jawa, seperti

terjadi di pantai Bulu kecamatan Bancar

kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Pada daerah studi kabupaten Tuban,

kemunduran garis pantai rata-rata 25 m selama

10 tahun (1999-2008)(Hadi Sholekan,2010).

Bulu merupakan salah satu desa yang terletak

di ujung barat kabupaten Tuban. Batas utara

desa Bulu merupakan wilayah pantai berpasir

sepanjang ±4 km dan memiliki pesisir yang

berimpit dengan garis pantai. Sebagian daerah

pesisir dimanfaatkan untuk kegiatan manusia,

seperti kawasan pemukiman, pariwisata,

perdagangan, industri, dan transportasi. Erosi

pantai di kawasan pesisir Bulu berdampak

terhadap terganggunya aktifitas sehari-hari

dari masyarakat Bulu.

Salah satu cara penanggulangan erosi

pantai yaitu dengan membuat bangunan

pengaman pantai (jetty, groin, breakwater,

dinding pantai atau revetmen). Dengan adanya

bangunan yang menjorok ataupun sejajar garis

pantai, tentunya akan memberikan pengaruh

terhadap bentuk garis pantai yang ada

Page 2

2


sekarang. Bangunan pengaman pantai

merupakan konstruksi yang dibangun sejajar

atau tegak lurus dengan garis pantai yang

berfungsi untuk melindungi pantai terhadap

kerusakan karena serangan gelombang dan

arus.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan fenomena yang terjadi,

permasalahan yang dibahas dapat dirumuskan

sebagai berikut :

1. Apa penyebab terjadinya kemunduran garis

pantai?

2. Bagaimana perencanaan bangunan

pengaman pantai di Bulu Tuban?



1.3 Batasan Masalah
Dalam tugas akhir ini dibatasi

permasalahan pada:

1. Mencari faktor-faktor yang menyebabkan

mundurnya garis pantai.

2. Menentukan dan merencanakan jenis

bangunan pengaman pantai di Bulu Tuban.

3. Tidak memperhitungkan biaya dalam

perencanaan pembangunannya.



1.4 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam tugas

akhir ini yaitu:

1. Evaluasi terhadap kondisi eksisting pantai

Bulu Tuban.

2. Perencanaan bangunan pengaman pantai.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum

Dalam bab ini akan dijelaskan beberapa

dasar teori yang akan digunakan sebagai dasar

perencanaan bangunan pengaman pantai. Ada

beberapa cara untuk melindungi pantai dari

kerusakan akibat erosi, gelombang, dan arus,

yaitu:

1. Memperkuat atau melindungi pantai
agar mampu menahan serangan

gelombang.

2. Mengubah laju angkutan sedimen
sepanjang pantai.

3. Mengurangi energi gelombang yang
sampai ke pantai.

4. Reklamasi dengan mengubah suplai
sedimen ke pantai.

2.2 Gelombang

Gelombang di laut dapat dibedakan

menjadi beberapa macam yang tergantung dari

gaya pembangkitnya. Gelombang tersebut

adalah angin yang dibangkitkan oleh tiupan

angin di permukaan laut, gelombang pasang

surut dibangkitkan oleh gaya tarik benda-

benda langit terutama matahari dan bulan

terhadap bumi, gelombang tsunami terjadi

karena gempa di laut atau letusan gunung

berapi di laut, gelombang yang dibangkitkan

oleh kapal yang bergerak, dan sebagainya.

Pada umumnya bentuk gelombang di

alam adalah sangat kompleks dan sulit

digambarkan secara matematis karena ketidak-

linierannya, tiga dimensi dan mempunyai

bentuk yang sangat random (suatu deret

gelombang mempunyai tinggi dan periode

berbeda). Beberapa teori yang ada hanya

menggambarkan bentuk gelombang yang

sederhana dan merupakan gelombang alam.

Ada beberap teori dengan berbagai derajat

kekompleksan dan ketelitian untuk

menggambarkan gelombang di alam,

diantaranya adalah teori Airy, Stokes, Gersner,

Mich, Knoidal dan Tunggal. Masing-masing

teori tersebut mempunyai batasan keberlakuan

yang berbeda. Teori gelombang Airy

merupakan gelombang amplitude kecil,

sedangkan teori yang lain adalah gelombang

amplitude batas (finite amplitude waves)

(Bambang Triatmojo,1999).

2.3 Pembangkitan Gelombang

Tinggi dan periode gelombang yang

terjadi dipengaruhi oleh kecepatan angin U,

lama hembus angin td, dan panjang fetch F

(jarak seret gelombang). Panjang fetch

membatasi waktu yang diperlukan gelombang

untuk berada di bawah pengaruh angin. Jadi

apabila fetch-nya pendek, energi yang

ditransfer angin ke air belum cukup besar,

sehingga tinggi gelombang yang terjadi juga

belum cukup besar.

Dalam model peramalan gelombang, perlu

diketahui beberapa parameter berikut ini:

1. Kecepatan rata-rata angin U di
permukaan air.

2. Arah angin.
3. Penjang daerah pembangkitan

gelombang (fetch, F).

4. Lama hembus (td)

2.3.1. Kecepatan Angin

Kecepatan angin biasanya dicatat

untuk harga-harga ekstrim saja. Kecepatan

angin ekstrim hanya terjadi dalam periode

waktu waktu yang pendek yang baisanya

Page 15

15


-1800.0

-1600.0

-1400.0

-1200.0

-1000.0

-800.0

-600.0

-400.0

-200.0

0.0

200.0

400.0

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Kondisi Tahun Awal

Kondisi setelah 10 Tahun

Segmen Δx α sin α sin α.Δx y awal Δy y akhir
1 200 39 0.63 125.9 125.9 -26 99.9

2 170 37 0.60 102.3 23.6 -10.92 12.6

3 160 47 0.73 117.0 -93.5 8.31 -85.2

4 195 43 0.68 133.0 -226.5 -41.79 -268.2

5 115 38 0.62 70.8 -297.3 20.21 -277.0

6 165 31 0.52 85.0 -382.2 -9.29 -391.5

7 269 36 0.59 158.1 -540.3 -38.78 -579.1

8 247 38 0.62 152.1 -692.4 5.8 -686.6

9 145 35 0.57 83.2 -775.6 -13.11 -788.7

10 295 39 0.63 185.6 -961.2 38 -923.2

11 166 35 0.57 95.2 -1056.4 -13.66 -1070.1

12 130 41 0.66 85.3 -1141.7 2.94 -1138.8

13 233 40 0.64 149.8 -1291.5 -9.58 -1301.1

14 171 47 0.73 125.1 -1416.6 -27.56 -1444.1

15 169 34 0.56 94.5 -1511.1 -18.97 -1530.0

16 209 41 0.66 137.1 -1648.2 3.92 -1644.3

waktu 10 tahun ke depan dan dirangkum

pada Tabel 4.14

Tabel 4.14 Rangkuman Hasil Transpor

Sedimen























Hasil dari Tabel 4.14 di plotkan terhadap

sumbu X, sehingga didapat perubahan

garis pantai selama 10 tahun. Gambar

perubahan garis pantai di Bulu Tuban

selama 10 tahun dapat dilihat pada gambar

4.9.














BAB V

PEMILIHAN JENIS BANGUNAN

PENGAMAN PANTAI

5.1 Umum

Berdasarkan perkembangan dari tahun

ke tahun dan melalui analisa sedimen pada bab

IV terlihat bahwa pada wilayah pantai Bulu

Tuban telah terjadi perubahan garis pantai ke

arah daratan tiap tahunnya. Dapat dikatakan

pada daerah di sekitar pantai ini telah

mengalami abrasi akibat pengaruh gelombang

sehingga terjadi transpor sedimen sejajar

pantai. Oleh karena itu masalah mengenai

perubahan garis pantai yang terjadi tiap

tahunnya di daerah tersebut yang dapat

menyebabkan daerah sekitar pantai Bulu

Tuban terjadi abrasi perlu segera ditangani.

Dalam pemilihan alternatif yang akan diambil

untuk menanggulangi masalah tersebut perlu

dipertimbangkan berbagai faktor yang

mempengaruhi abrasi pada wilayah pantai dan

tujuan yang akan dicapai serta pengaruh

terhadap lingkungan.

Tujuan yang ingin dicapai adalah:

- Bahan-bahan bangunan / material
yang tersedia di sekitar pantai tersebut

bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

- Kondisi gelombang di lokasi pantai
dapat di redam.

- Penambahan daratan pantai.
- Bathimetri dasar pantai.
- Tata guna lahan.
- Aktivitas masyarakat setempat.
- Kelestarian dan kesehatan lingkungan.
- Dampak yang ditimbulkan akibat

pembangunan pelindung pantai.

5.2 Pemilihan Jenis Pengaman Pantai
Pada perhitungan analisa sedimen,

perubahan garis pantai dapat diprediksi

beberapa tahun yang akan datang baik

sebelum adanya bangunan pantai maupun

setelah ada bangunan pantai.



5.2.1 Groin

Panjang groin akan efektif menahan

sedimen apabila bangunan tersebut menutup

lebar surfzone. Namun keadaan tersebut dapat

mengakibatkan suplai sedimen ke daerah hilir

terhenti sehingga dapat mengakibatkan erosi di

daerah tersebut. Oleh karena itu panjang groin

dibuat 40% sampai dengan 60% dari lebar

surfzone dan jarak antar groin adalah 1-3 kali

panjang groin. (Triatmodjo, 1999)































Gambar 5.1. Potensi perubahan garis

pantai yang diakibatkan oleh

bangunan pantai jenis groin (a) groin

tunggal (b) groin parallel



Pada perhitungan bab IV diperoleh kedalaman

gelombang pecah (db) adalah 1,50 m

Page 16

16


sedangkan kemiringan dasar pantai (m) adalah

0,01 maka lebar surfzone diperoleh yaitu:

- Kedalaman gelombang pecah (db) =
1,5 m

- Kemiringan dasar pantai (m) = 0,01
- Lebar surfzone (Ls) = db/m

= 1,5/0,01

= 150 m

- Panjang groin (Lg) = (40% -
60%)x Lebar surfzone

= 50% x 150

= 75 m

- Jarak antar groin (Xg) = 1 x Ls
= 1 x 150

= 150 m

- Jumlah groin = 12 buah
Pada bagian ujung hilir dari pantai

yang dilindungi dibuat groin transisi. Panjang

groin berkurang secara berangsur-angsur di

bagian ujung hilir pantai yang dilindungi, dari

panjang groin penuh membentuk sudut sekitar

6° terhadap garis pantai alami. Jarak antar

groin juga berkurang dengan mempertahankan

perbandingan antara Xg dab Lg, yaitu:

Xg = Lg sampai 3 Lg
Sehingga diperoleh:

- Panjang groin (Lg) = 75 m
- Jarak antar groin (Xg) = 1,5 x Lg

= 1,5 x 75

= 112,5 m

5.2.1.1.1 Rencana Anggaran Dana
Struktur Groin

Dalam sub bab ini, akan dibahas

mengenai rincian rencana anggaran biaya

pelaksanaan pekerjaan Proyek pembangunan

groin di pantai Bulu Tuban.

Rencana anggaran biaya Proyek

Pembangunan groin ini, tahapan pekerjaan

yang dihitung meliputi :

 Pekerjaan persiapan

 Pekerjaan struktur groin rubble
mound



a. Harga Material dan Upah
Harga material dan upah diambil dari

“Harga Satuan dan Upah Kerja serta Harga

Sewa Peralatan Kota Surabaya pada Tahun

2011”. Berikut ini merupakan rincian daftar

harga material (Tabel 5.1), daftar harga upah

pekerja (Tabel 5.2) dan daftar harga sewa

peralatan (Tabel 5.3).



Tabel 5.1. Daftar harga material




Tabel 5.2. Daftar harga upah pekerja



Tabel 5.3. Daftar harga sewa alat


b. Rencana Anggaran Biaya

Dalam rencana anggaran biaya ini,

tahapan pekerjaan yang dihitung meliputi :

1. Pekerjaan persiapan(Tabel 5.4)
2. Pekerjaan struktur rubble

mound(Tabel 5.5)



Berikut ini merupakan perinciannya :

Tabel 5.4. RAB pekerjaan persiapan









Tabel 5.5. RAB pekerjaan rubble mound

groin







Dari rincian di atas, total rencana biaya Proyek

Pembangunan groin di Pantai Bulu Tuban,

No Jenis Material Satuan Harga

1 Gedeg Guling m
2

34,000.00Rp

2 Batu Kali Belah m
3

130,100.00Rp

4 Batu Pecah Mesin m
3

160,000.00Rp

No Jenis Tenaga Kerja Satuan Harga

1 Mandor orang/jam 7,500.00Rp

2 Kepala Tukang orang/jam 7,188.00Rp

3 Tukang orang/jam 6,875.00Rp

4 Pekerja orang/jam 5,313.00Rp

5 Operator orang/jam 9,688.00Rp

6 Pembantu Operator orang/jam 7,500.00Rp

7 Sopir orang/jam 6,250.00Rp

8 Penyelam orang/jam 9,375.00Rp

No Jenis Alat Satuan Harga

1 Ponton kapasitas 1000 ton jam 950,000.00Rp

2 Excavator jam 130,000.00Rp

3 Anchor boat jam 383,000.00Rp

4 Work boat jam 112,500.00Rp

5 Generator 150 kV A jam 125,000.00Rp

6 Alat bantu kerja pengangkutan jam 500,000.00Rp

8 Trailing suction hopper dredger jam 750,000.00Rp

9 Back Hoe jam 130,000.00Rp

No Uraian Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

1 Pembersihan lapangan 1 Ls 13,600,000.00Rp 13,600,000.00Rp

2 Pengukuran dan pemasangan bowplank 1 Ls 25,500,000.00Rp 25,500,000.00Rp

3 Mobilisasi dan demobilisasi 1 Ls 500,000,000.00Rp 500,000,000.00Rp

4 Penerangan 1 Ls 7,500,000.00Rp 7,500,000.00Rp

5 Administrasi dan dokumentasi 1 Ls 10,000,000.00Rp 10,000,000.00Rp

6 Gudang 1 Ls 25,000,000.00Rp 25,000,000.00Rp

7 Direksi kit 1 Ls 42,500,000.00Rp 42,500,000.00Rp

624,100,000.00Rp Sub Total 1

No Uraian Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

1 Pekerjaan pemasangan primary layer 25200 m3 319,066.50Rp 8,040,475,800.00Rp

2 Pekerjaan pemasangan secondary layer 9765 m3 363,104.00Rp 3,545,710,560.00Rp

3 Pekerjaan pemasangan core layer (W/200) 2242.8 m3 363,104.00Rp 814,369,651.20Rp

4 Pekerjaan pemasangan core layer (W/6000) 15712.2 m4 258,454.00Rp 4,060,880,938.80Rp

5 Pemasangan gedeg guling 16380 m2 230,283.00Rp 3,772,035,540.00Rp

20,233,472,490.00Rp Sub Total 2

Page 29

29


1. Mundurnya garis pantai di Bulu Tuban

disebabkan oleh transpor sedimen

sepanjang pantai. Dari hasil

perhitungan transpor sedimen,

didapatkan hasil perubahan volume

sedimen Δv terbesar sebesar –

16.296,59 m
3
/10th pada segmen 5,

yang menyebabkan kemunduran

pantai sejauh 41 m/10th. Hal itu

membuktikan bahwa pantai Bulu

Tuban mengalami erosi pada 10 tahun

terakhir.

2. Dari hasil analisa gelombang dan

analisa sedimen selama 10 tahun dan

pengamatan, saat ini telah dan sedang

terjadi proses erosi di Pantai Bulu

Tuban yang menyebabkan berubahnya

garis pantai, dan diperkirakan dapat

mengancam perumahan dan sarana

sosial lainnya, serta kelestarian pantai

itu sendiri.

3. Berdasarkan hasil analisa dengan

menggunakan data angin, diperoleh

perencanaan pengaman pantai berupa

groin. Groin dipilih untuk pengaman

pantai di Bulu Tuban karena:

a. Dapat menahan erosi

b. Dapat mengurangi limpasan

gelombang yang terjadi,sehingga

pemukiman dibelakangnya dapat

terlindungi.

c. Dapat menambah daratan.

d. Biaya pelaksanaan lebih murah

daripada breakwater.

e. Pelaksanaan lebih mudah.

4. Berdasarkan hasil analisa, diperoleh

perencanaan groin sebagai berikut :

 Jenis bangunan : groin

 Tinggi bangunan : 6 m

 Lebar puncak : 2 m

 Lebar dasar : 31 m

 Panjang bangunan : 75 m

 Jarak antar groin : 150 m

 Jumlah groin : 12 buah

 Kemiringan : 1 : 2

 Fungsi bangunan : mencegah

erosi

5. Daya dukung tanah memenuhi safety

factor yaitu SF = 33,2 > 2

6. Settlement yang terjadi akibat

bangunan sebesar 0,816 m

9.2 Saran

1. Sebagai alternatif pemecahan masalah

kerusakan pantai di Bulu Tuban.

2. Diharapkan dapat digunakan untuk

perencanaan-perencanaan bangunan

pengaman pantai pada segmen-

segmen berikutnya di lokasi studi.

Daftar Pustaka



CERC. 1984. Shore Protection Manual

Volume I. Washington: US Army Coastal

Engineering Research Center.

CERC. 1984. Shore Protection Manual

Volume II. Washington: US Army

Coastal Engineering Research Center.

CERC. 1992. Automated Coastal Engineering

System, Buku I. Missisippi: Departement

of the Army Water-way Experiment

Station Corps of Engineers.

Diposaptono, Subandono. 2001. Erosi Pantai

dan Klasifikasinya. BPPT. Prosiding

Konferensi Esdal 2001.

Direktorat Rawa dan Pantai, Ditjen Pengairan.

2009. Pedoman Perencanaan Bangunan

Pengaman Pantai di Indonesia.

Fischer, H. B., The Mecanisme of Dispersion

in Natural Streams. Journal of Hydraulics

Division, HY6.

Goda, Y. 2000. Random Seas and Design of

Maritime Structures. Tokyo: World

Scientific.

Hunter, M. 1992. Coastal Groins and

Breakwaters. Washington: U.S. Army

Corps Engineers.

Lockhart, John H., Jr., Headquaters., Andrew

Morang. 2008. Coastal Engineering

Manual. Washington: U.S. Army Corps of

Engineers.

Reeve, Dominic., Chadwick, Andrew., dan

Fleming, Chris. 2004. Coastal

Engineering:Proses, Theory and Design

Practice. New York: Spon Press.

Page 30

30


Sawaragi, T. 1995. Coastal Engineering-

Waves, Beaches,Wave Structure

Interactions. Osaka: Elsevier Science B.

V.

Shibayama, T. 1991. Coastal Processes.

Bangkok: Division of Water Resources

Engineering, Asian Institute ot

Technology.

Sorensen, Robert M. 2006. Basic Coastal

Engineering. New York: Springer Science.

Syamsudin dan Kardana. 1997. Rehabilitasi

Pantai/Zona Pesisir. P3P Departemen

Pekerjaan Umum.

Triatmojo, Bambang. 1999. Teknik Pantai.

Yogyakarta: Beta Offset.

Triatmojo, Bambang. 2008. Pelabuhan.

Yogyakarta: Beta Offset.

Triatmojo, Bambang. 2012. Perencanaan

Bangunan Pantai. Yogyakarta: Beta

Offset.

U.S. Army Corp of Engineers. 2002. Coastal

Engineering Manual. Washington.

Wahyudi, Herman. 1999. Daya Dukung

Pondasi Dangkal.

Surabaya: Penerbit Jurusan Teknik Sipil

ITS.

Yuwono, Nur. 1992. Dasar-dasar

Perencanaan Bangunan Pantai.

Yogyakarta: PAU-IT-UGM.

Zweers, Sander. 2009. Manual Desain

Bangunan Pengaman Pantai. Aceh: Sea

Defence Consultants.

Similer Documents