Download Ppk Penyakit Dalam PDF

TitlePpk Penyakit Dalam
File Size453.3 KB
Total Pages62
Table of Contents
                            DIABETES MELITUS
	Diagnosis
	Faktor risiko DM tipe – 2
	Pemeriksaan fisik lengkap termasuk
	Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa
	Diagnosa Banding
	Pemeriksaan Penunjang
	Pemeriksaan Penunjang lain
	Terapi
	Perencanaan Makan
	Rumus Broca
	Intervensi Farmakologis
	Insulin
	Terapi Kombinasi
	Pengelolaan DM tipe 2 Gemuk
	Kombinasi 4 macam OHO :
	Terapi kombinasi OHO siang hari + Insulin malam
	Pengelolaan DM tipe 2 Tidak Gemuk
	Terapi kombinasi OHO siang hari + Insulin malam
	Kombinasi 4 macam OHO :
	Terapi kombinasi OHO siang hari + Insulin malam
	Penilaian hasil terapi
	Komplikasi
	Prognosis
KETO-ASIDOSIS DIABETIKUM
	Diagnosis
	Kriteria diagnosis
	Diagnosa Banding
	Pemeriksaan Penunjang
	Pemantauan
	Pemeriksaan lain (sesuai indikasi) : kultur darah, kultur urin, kultur pus
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
HIPOGLIKEMIA
	DIAGNOSIS
	Diagnosa banding
	Pemeriksaan penunjang
	Komplikasi
OSTEOARTRITIS
	Diagnosis
	Diagnoasis Banding
	Pemeriksaan Penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
DEMAM BERDARAH DENGUE
	Diagnosis
	Derajat
	Diagnosa Banding
	Pemeriksaan Penunjang
	Komplikasi
	Prognosis
DEMAM TIFOID
	Hepatitis Tifosa
	Tifoid Karier
	Pemeriksaaan Penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
SEPSIS DAN RENJATAN SEPTIK
	DIAGNOSIS SEPSIS
	SEPSIS BERAT
	Diagnosis banding
	Pemeriksaan penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
INTOKSIKASI OPIAT
	Diagnosis
	Diagnosis banding
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT
	Diagnosis banding
	Pemeriksaan penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
	Diagnosis
	Diagnosis Banding
	Pemeriksaan Penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
	Diagnosis banding
	Pemeriksaan penujang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
	Diagnosis
	Diagnosis banding
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
	Diagnosis Banding
	TERAPI
	Komplikasi
	Prognosis
	Stadium WHO :
	Diagnosis Banding
	TERAPI
	Komplikasi
	Prognosis
	Pemeriksaan penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
	Diagnosis
	Diagnosis Banding
	Pemeriksaan Penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Diagnosis
	Diagnosis Banding
	Pemeriksaan Penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
	Diagnosis
	Pemeriksaan Penunjang
	Terapi
	Komplikasi
	Prognosis
                        
Document Text Contents
Page 1

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

PENYAKIT DALAM

RSU MUHAMMADIYAH PONOROGO

2015-2016
DIABETES MELITUS

Pengertian
Suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oelh
hipergikemia akibat defek pada :

1. Kerja insulin (resistensi insulin) di hati (peningkatan

produksi glukosa hepatik) dan di jaringan perifer

(otot dan lemak)

2. Sekresi insulin oleh sel beta pankreas

3. Atau keduanya.

Klasifikasi Diabetes

Melitus (DM)
I. DM tipe I (destruksi sel , umumnya diikuti

defisiensi insulin absolut)

- Immune – mediated

- Idiopatik

II. DM tipe 2 (bervariasi mulai dari predominan

resistensi insulin dengan defisiensi insulin relatif

sampai predominan defek sekretorik dengan

resistensi insulin)

III. Tipe spesifik lain

- Defek genetik pada fungsi sel 

- Defek genetik pada kerja insulin

- Penyakit eksokrin pankreas

- Endokrinopati

- Diinduksi obat atau zat kimia

- Infeksi

- Bentuk tidak lazim dari immune mediated DM

- Sindrom genetik lain, yang kadang berkaitan
dengan DM

IV. DM gestasional

Page 2

Diagnosis
Terdiri dari :

- Diagnosisi DM

- Diagnosis komplikasi DM

- Diagnosis penyakit penyerta

- Pemantauan pengendalian DM

Anamnesis
- Keluhan khas DM : poliuria, polidipsia, polifagia

penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan

sebabnya.

- Keluhan tidak khas DM : lemah, kesemutan, gatal,

mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus

vulvae pada wanita.

Faktor risiko DM tipe – 2 - Usia > 45 tahun

- Berat badan lebih > 110% berat badan idaman

atau indeks massa tubuh (IMT) > 23kg/m²

- Hipertensi (TD ≥ 140/90 mm/Hg)

- Riwayat DM dalam garis keturunan

- Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau
BB lahir bayi > 4.000 gram

- Riwayat DM gestasional

- Riwayat toleransi gula terganggu (TGT) atau

glukosa darah puasa terganggu (GDPT)

- Penderita penyakit jantung koroner, tuberkulosis,
hipertroidisme

Kolesterol HDL ≤ 35 mg/dL dan atau

trigliserida ≥ 250 mg/Dl

Anamnesis komplikasi DM ( lihat komplikasi).

Pemeriksaan fisik lengkap
termasuk

- Tinggi badan, berat badan, TD, lingkarpinggang

- Tanda neuropati

- Mata (visus, lensa mata dan retina)

- Gigi mulut

- Keadaan kaki (termsuk rabaan nadi kaki), kulit dan
kuku

Page 31

o Tempat infeksi

o Dugaan kuman penyebab

o Profil antimikroba (farmakokinetik dan
farmakodinamik)

o Keadaan fungsi n fungsi hati)

Antimikroba definitif : bila hasil kultur

mikroorganisme telah diketahui, antimikroba dapat

diberikan sesuai hasil uji kepekaan mikroorganisme

 Suportif : resusitasi ABC, oksigenasi, terapi

cairan, vasopresor.inotropik, dan transfusi

(sesuai indikasi) pada renjatan septik

diperlukan untuk mendapatkan respons

secepatnya.

o Resusitasi cairan

Hipovolemia pada sepsis segera diatasi

dengan pemberian cairan kristaloid atau

koloid. Volume cairan yang diberikan

mengacu pada respons klinis(respons terlihat

dari peningkatan tekanan darah, penurunan

frekuensi jantung, kecukupan isi nadi,

perabaan kulit dan ekstremitas, produksi urin,

dan perbaikan kesadaran) dan perlu

diperhatikan ada tidaknya tanda kelebihan

cairan (peningkatan JVP, ronki, galop S dan

penurunan saturasi oksigen).

Sebaiknya dievaluasi dengan CVP

(dipertahankan 8-12 mmHg), dengan

mempertimbangkan kebutuhan kalori perhari.

o Oksigenasi sesaui kebutuhan, Ventilator

diindikasikan pada hipoksemia yang

progresif, hiperkapnia, gangguan

neurologis atau kegagalan otot pernapasan

o Bila hidrasi cukup tetapi pasien tetap
hipotensi, diberikan vasoaktif untuk mencapai

Page 32

tekanan darah sistolik 90 mmHg atau MAP
60 mmHg dan urin dipertahankan > 30
ml/jam. Dapat digunakan vasopresor seperti
dopamin dengan dosis > 8 mcg.kgBB/menit,
norepinefrin 0.03-1.5 mcg/kgBB/menit ,
fenilefrin 0.5-8 mcg/kgBB/menit atau
epinefrin 0.1-0.5 mcg.kgBB/menit. Bila
terdapat disfungsi miokard, dapat digunakaan
inotropik seperti dobutamin dengan dosis 2-28
mcg/kgBB/menit, dopamin 3-8
mcg/kgBB/menit, epinefrin 0.1-0.5
mcg/kgBB/menit, atau fosfodiesterase
inhibitor (amrinon dan milrinon)

o Transfusi komponen darah sesuai indikasi

o Koreksi gangguan metabolik : elektrolit,

gula darah dan asidosis metabolik(secara

empiris dapat diberikan bila pH<7.2 atau

bikarbonat serum < 9 mEq/l, dengan

disertai upaya perbaikan hemodinamik)

o Nutrisi yang adekuat

o Terapi suportif terhadap gangguan fungsi gunjal

o Kortikosteroid bila ada kecurigaan insufisiensi
adrenal

o Bila terjadi KID dan didapatkan bukti
terjadinya tromboemboli, dapat diberikan
heparn dengan dosis 100 IU/kgBB bolus,
dilanjutkan 15-25 IU/kgBB/jam dengan infus
kontinu, dosis lanjutan disesuaikan untuk
mencapai target aPTT 1.5-2 kali kontrol atau
antiogulan lainnya.

Komplikasi Gagal napas, gagal ginjal, gagal hati, KID, renjatan septik
ireversibel

Prognosis
Dubia ad malam

Similer Documents