Download Referat Tetanus PDF

TitleReferat Tetanus
File Size429.5 KB
Total Pages26
Document Text Contents
Page 14

13






Faktor pemberat

Penyakit atau trauma yang mengancam nyawa

Keadaan yang tidak langsung mengancam nyawa

Keadaan yang tidak mengancam nyawa

Trauma atau penyakit ringan

ASA derajat I

10

8

4

2

1

Sumber: Farrar et al, 2000





Sistem skoring menurut Phillips dikembangkan pada tahun 1967 dan didasarkan pada

empat parameter, yaitu masa inkubasi, lokasi infeksi, status imunisasi, dan faktor pemberat. Skor

dari keempat parameter tersebut dijumlahkan dan interpretasinya sebagai berikut: (a) skor < 9

tetanus ringan, (b) skor 9-18 tetanus sedang, dan (c) skor > 18 tetanus berat.



Tabel 2. Sistem skoring tetanus menurut Ablett

Grade I (ringan) Trismus ringan hingga sedang, spastisitas general, tidak ada distres

pernapasan, tidak ada spasme dan disfagia.

Grade II (sedang) Trismus sedang, rigiditas yang tampak, spasme ringan hingga sedang

dengan durasi pendek, takipnea ≥ 30 kali/menit, disfagia ringan.

Grade III A (berat) Trismus berat, spastisitas menyeluruh, spasme spontan yang

memanjang, distres pernapasan dengan takipnea ≥ 40 kali/menit,

apneic spell, disfagia berat, takikardia ≥ 120 kali/menit.

Grade III B (sangat berat) Keadaan seperti pada grade III ditambah disfungsi otonom berat yang

melibatkan sistem kardiovaskuler. Hipertensi berat dan takikardia

bergantian dengan hipotensi relatif dan bradikardia, salah satunya

dapat menjadi persisten.

Sumber: Cottle, 2011



Sistem skoring menurut Ablett juga dikembangkan pada tahun 1967 dan menurut beberapa

literatur merupakan sistem skoring yang paling sering digunakan
(9,13,16)

. Udwadia (1992)

kemudian sedikit memodifikasi sistem skoring Ablett dan dikenal sebagai skor Udwadia
17

.



Tabel 3. Sistem skoring tetanus menurut Udwadia

Grade I (ringan) Trismus ringan hingga sedang, spastisitas general, tidak ada distres

pernapasan, tidak ada spasme dan disfagia.

Page 26

25


12. Todar K. 2007. The Microbiological World: Tetanus. (Online)

http://textbookofbacteriology.net/themicrobialworld/Tetanus.html, diakses 8 Oktober 2011.

13. Cook T, Protheroe R, Handel J. Tetanus: a review of the literature. British Journal of

Anaesthesia. 2001;87(3):477-87.

14. Ritarwan K. 2004. Tetanus. (Online).

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3456/1/penysaraf-kiking2.pdf, diakses 29

Juni 2014

15. Sjamsuhidajat R, Jong Wd. Tetanus. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC; 2005.

16. Afshar M, Raju M, Ansell D, Bleck TP. Narrative Review: Tetanus—A Health Threat After

Natural Disasters in Developing Countries. Ann Intern Med. 2011;154:329-35.

17. Udwadia F, Sunavala J, Jain M, D'Costa R, Jain P, Lall A, et al. Haemodynamic Studies

During the Management of Severe Tetanus. Quarterly Journal of Medicine, New Series.

1992;83(302):449-60.

18. Dittrich KC, Keilany B. Tetanus: lest we forget. Canadian Journal of Emergency Medicine.

2001;3(1):47-50.

19. Taylor AM. Tetanus. Continuing Education in Anaesthesia, Critical Care & Pain.

2006;6(3):101-4.

20. Ross SE. Prophylaxis Against Tetanus in Wound Management. (Online).

http://www.facs.org/trauma/publications/tetanus.pdf, diakses 29 Juni 2014.

21. Anonym. 2007. Tetanus Prophylaxis in Wound Management. (Online).

http://www.cdph.ca.gov/programs/immunize/Documents/IMM-154_WEB.pdf, diakses 29

Juni 2014



http://textbookofbacteriology.net/themicrobialworld/Tetanus.html

Similer Documents