Download SNI 06-6989.51-2005 Surfaktan Anionik Dengan Spektrofotometer PDF

TitleSNI 06-6989.51-2005 Surfaktan Anionik Dengan Spektrofotometer
File Size43.9 KB
Total Pages11
Document Text Contents
Page 1

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di w
ebsite dan tidak untuk dikom

ersialkan”




Standar Nasional Indonesia


SNI 06-6989.51-2005




















Air dan air limbah – Bagian 51 : Cara uji
kadar surfaktan anionik dengan spektrofotometer

secara biru metilen






















ICS 13.060.01






Badan Standardisasi Nasional

Page 2

“H
a
k C

ip
ta

B
a
d
a
n
S

ta
n
d
a
rd

isa
si N

a
sio

n
a
l, C

o
p
y

sta
n
d
a
r in

i d
ib

u
a
t u

n
tu

k p
e
n
a
ya

n
g
a
n
d

i
w

e
b
site

d
a
n
tid

a
k u

n
tu

k d
iko

m
e
rsia

lka
n


Page 5

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di w
ebsite dan tidak untuk dikom

ersialkan”

SNI 06-6989.51-2005

1 dari 6

Air dan air limbah – Bagian 51 : Cara uji kadar surfaktan anionik
dengan spektrofotometer secara biru metilen




1 Ruang lingkup

Cara uji ini digunakan untuk penentuan kadar surfaktan anionik dalam air dan air limbah
secara biru metilen dan diukur menggunakan spektrofotometer dengan kisaran kadar 0,025
mg/L sampai 2,0 mg/L pada panjang gelombang 652 nm.


2 Istilah dan definisi

2.1
larutan induk
larutan baku kimia yang dibuat dengan kadar tinggi dan akan digunakan untuk membuat
larutan baku dengan kadar yang lebih rendah

2.2
larutan baku
larutan induk yang diencerkan dengan air suling sampai dengan kadar tertentu

2.3
larutan kerja
larutan baku yang diencerkan dan digunakan untuk membuat kurva kalibrasi

2.4
kurva kalibrasi
grafik yang menyatakan hubungan kadar larutan baku dengan hasil pembacaan absorbansi,
yang biasanya merupakan garis lurus

2.5
larutan blanko
air suling yang diperlakukan sama dengan contoh uji


3 Cara uji

3.1 Prinsip

Surfaktan anionik bereaksi dengan biru metilen membentuk pasangan ion berwarna biru
yang larut dalam pelarut organik. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 652 nm. Serapan yang terukur setara dengan
kadar surfaktan anionik.

3.2 Bahan

a) serbuk Alkil Sulfonat Linier (LAS) atau natrium lauril sulfat (C12H25OSO3Na);

b) larutan indikator fenolftalin 0,5%;

Larutkan 0,5 g fenolftalin dengan 50 mL alkohol 95% di dalam gelas piala 250 mL.
Tambahkan 50 mL air suling dan beberapa tetes larutan NaOH 0,02 N sampai warna
merah muda.

Page 6

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di w
ebsite dan tidak untuk dikom

ersialkan”

SNI 06-6989.51-2005

2 dari 6

c) larutan natrium hidroksida (NaOH) 1N;
Larutkan 4,0 g NaOH dengan 50 mL air suling di dalam labu ukur 100 mL, tambahkan air
suling sampai tepat tanda tera dan dihomogenkan.


d) larutan sulfat (H2SO4) 1N;

Ambil 2,8 mL H2SO4 pekat, kemudian masukkan ke dalam labu ukur 100 mL yang berisi
50 mL air suling. Tambahkan air suling sampai tepat tanda tera dan dihomogenkan.


e) larutan sulfat (H2SO4) 6N;

Ambil 20 mL H2SO4 pekat, kemudian masukkan ke dalam gelas piala 200 mL yang berisi
120 mL air suling dan dihomogenkan.


f) larutan biru metilen;

Larutkan 100 mg biru metilen dengan 100 mL air suling dan dihomogenkan. Ambil 30 mL
larutan tersebut dan masukkan ke dalam labu ukur 1000 mL, tambahkan 500 mL air
suling, 41 mL H2SO4 6N dan 50 g natrium fosfat monohidrat (NaH2PO4.H2O), kocok
hingga larut sempurna kemudian tambahkan air suling hingga tepat tanda tera dan
dihomogenkan.


g) kloroform (CHCl3) p.a;

h) larutan pencuci;

Ambil 41 mL H2SO4 6N dan masukkan ke dalam labu ukur 1000 mL yang berisi 500 mL
air suling. Tambahkan 50 g natrium dihidrogen fosfat monohidrat (NaH2PO4.H2O), kocok
hingga larut sempurna kemudian tambahkan air suling hingga tepat tanda tera dan
dihomogenkan.


i) hidrogen peroksida (H2O2) 30%;

j) isopropil alkohol (i-C3H7OH);

k) serabut kaca (glass wool).

3.3 Peralatan

a) spektrofotometer;
b) timbangan analitik;
c) corong pemisah 250 mL (dianjurkan dengan cerat dan tutup terbuat dari teflon);
d) labu ukur 100 mL; 500 mL dan 1000 mL;
e) gelas piala 200 mL;
f) pipet volumetrik 1,0 mL; 2,0 mL; 3,0 mL dan 5,0 mL; dan
g) pipet ukur 5 mL dan10 mL.

3.4 Persiapan pengujian

3.4.1 Pembuatan larutan induk surfaktan anionik 1000 mg/L

Larutkan 1,000 g LAS 100% aktif atau natrium lauril sulfat (C12H25OSO3Na) dengan 100 mL
air suling dalam labu ukur 1000 mL kemudian tambahkan air suling hingga tepat tanda tera
dan dihomogenkan.

CATATAN Simpan larutan induk surfaktan anionik di dalam lemari pendingin untuk mengurangi
biodegradasi. Bila terbentuk endapan, larutan ini tidak dapat dipergunakan.

Page 10

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di w
ebsite dan tidak untuk dikom

ersialkan”

SNI 06-6989.51-2005

6 dari 6

Bibliografi




L.S.Clesceri, A.E.Greenberg, A.D.Eaton, Standard Methods for the Examination Of Water
and Wastewater, 20 th Edition (1998), 5540 A and 5540C, APHA, AWWA and WPCF,
Washington DC.

Page 11

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di w
ebsite dan tidak untuk dikom

ersialkan”





BADAN STANDARDISASI NASIONAL - BSN
Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lt. 3-4

Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta 10270
Telp: 021- 574 7043; Faks: 021- 5747045; e-mail : [email protected]

Similer Documents