Download Ulkus Kornea PDF

TitleUlkus Kornea
File Size920.3 KB
Total Pages46
Document Text Contents
Page 23

22

Infeksi pada mata harus diberikan sebagai berikut.

a. Sulfas atropine sebagai salap atau larutan

Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama

1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropine :

- Sedatif, menghilangkan rasa sakit.

- Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.

- Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor 

 pupil.

Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai

daya akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan

lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga

sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah

 pembentukan sinekia posterior yang baru

 b. Skopolamin sebagai midriatika

c. Analgetik 

Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes

 pantokain, atau tetrakain tetapi jangan sering-sering.

d. Antibiotic

Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau

yang berspektrum luas diberikan sebagai salap, tetes atau

injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya tidak 

diberikan salap mata karena dapat memperlambat

 penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi kornea

kembali.

e. Anti jamur 

Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh

terbatasnya preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis

keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi sebagai berikut.

Page 24

23

1. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya :

topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10

mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole

2. Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal,

 Natamicin, Imidazol

3. Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol

4. Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa,

 berbagai jenis anti biotik 

f. Antiviral

Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik 

diberikan streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik,

anti biotik spektrum luas untuk infeksi sekunder analgetik bila

terdapat indikasi. Untuk herpes simplex diberikan pengobatan

IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer.

Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi

supuratif karena dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi

tersebut dan memberikan media yang baik terhadap

 perkembangbiakan kuman penyebabnya. Perban memang

diperlukan pada ulkus yang bersih tanpa sekret guna mengurangi

rangsangan. Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan

sebagai berikut.

1. Kauterisasi

a) Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik,

larutan murni trikloralasetat

 b) Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai

elektrokauter atau termophore. Dengan instrumen ini

dengan ujung alatnya yang mengandung panas

Page 46

45

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis pasien adalah ulkus

kornea sentralis e.c suspek jamur dikarenakan gejala tadi timbul setelah mata

 pasien kemasukan tanah. Untuk memastikan diagnosis pasien ini dianjurkan untuk 

dilakukan pemeriksaan pewarnaan KOH dan gram dari kerokan dasar dan tepi

ulkus kornea. Adapun pemeriksaan lain yang dianjurkan untuk pasien ini adalah

kultur dan sensitivity test.

Untuk saat ini diberikan pengobatan anti jamur untuk mengobati dan

mencegah terjadinya infeksi yang meluas.Pemberian antibiotic spectrum luas juga

di lakukan karena mungkin saja infeksi di sebabkan oleh bakteri dan mencegah

infeksi sekunder 

Terapi yang telah adalah diberikan

• SA ED 2x1 OS

• Floxa ED OS tiap jam

• Solnazole ED OS tiap jam

• EDTA ED OS 4x1

• Itrakonazol 1x200 mg

• Ciprofloxacin 2x500 mg

• Tetrasiklin 3x500 mg

• Methydroline 50 mg 2x1

• Amlodipine 5 mg 1x1

• Canderin 8 mg 1x1

• Glaucon 4x1

• Aspark 2x1

• Spooling betadine

• Efrisel 10% 3x1

Prognosis pasien ini, quo ad vitam adalah bonam, karena tanda-tanda

vitalnya masih dalam batas normal, sedangkan quo ad functionam adalah dubia ad

malam karena walaupun dengan pengobatan yang tepat dan teratur ulkusnya dapat

sembuh, namun meninggalkan bekas berupa sikatrik yang dapat menimbulkan

gangguan tajam penglihatan.

Similer Documents